Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 20 Juni 2009

Semburan Api Berlafadz Allah


Jilatan api pipa Pertamina di Lapindo membentuk lafal Allah dan kuda laut Surabaya - Allah Maha Besar! Ledakan pipa gas milik Pertamina di lokasi lumpur Lapindo, jalan Tol Porong-Gempol KM 38 22 November 2006 lalu yang menewaskan 13 orang masih menyimpan misteri. Ada yang mengejutkan sesaat api melumat tanggul di sekitar pusat semburan lumpur tersebut.Seorang pekerja PU yang tergabung dalam Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo diam-diam berhasil mengabadikan jilatan api yang cukup mecengengangkan. Bagaimana tidak! Tanpa disadarinya, hasil bidikan fotografer amatir yang namanya dirahasiakan itu menunjukkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.Kok bisa? Api yang membubung setinggi hampir 1 kilometer itu ternyata sempat membentuk lafal Allah dalam tulisan Arab beberapa saat. Selain itu, api itu juga menunjukkan gambar logo lama perusahaan minyak negara, PT Pertamina: kuda laut.
Boleh percaya, boleh juga tidak. Yang jelas, wartawan detikcom yang menerima softcopy foto ini sempat terkejut menyaksikan foto yang selama ini dianggap biasa oleh Timnas itu.

Pengamatan detikcom, foto tersebut kemungkinan dibidik dari tanggul Desa Renokenongo yang berada di bagian utara pusat ledakan. Memang jika dilihat sekilas, foto itu terkesan biasa.

Namun jika foto itu dicermati dan diteliti lebih lama, terlihat jelas apinya membentuk lafal Allah dan kuda laut. Pertanyaan yang muncul apakah itu jilatan api yang membentuk lafal Allah ini kebetulan saja atau memang memuat pesan-pesan dari Allah? Wallau a�lam

Tragedi Tambang Sawah Lunto

Sejak 1997, Hampir 1000 Penambang Tewas di Kawasan yang Sama

detikcom – Rabu, Juni 17

Ledakan tambang yang menimbulkan banyak korban jiwa di kawasan Bukit Bual, Nagari V Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) ternyata bukan baru kali ini saja terjadi. Bahkan sejak 1997, diperkirakan sudah hampir 1000 penambang tewas karena berbagai sebab di kawasan itu.

Hal itu diungkapkan manajer Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Rabu (17/6/2009).

“Korban kali ini memang yang terbesar. Namun kejadian seperti ini bukan yang pertama di kawasan itu. Sejak 1997, hampir 1000 penambang rakyat tewas dengan penyebab yang sama, yakni pekerja yang tidak memenuhi kualifikasi dan peralatan yang tidak memenuhi standar penambangan yang aman. Besarnya korban jiwa itu boleh ditanyakan pada masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ade mengatakan, penambangan yang dilakukan oleh masyarakat itu sangat tinggi risikonya. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan dan alat yang digunakan para penambang. Apalagi para penambang itu melakukan penambangan dalam dengan membuat lorong hingga 300 meter ke dalam tanah.

Lebih lanjut Ade mengatakan, meski hampir setiap minggu selalu ada korban jiwa, namun masyarakat nyaris tidak pernah melaporkannya pada pihak yang berwenang. Begitu ada korban tewas, mereka berupaya menyembunyikan dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Tujuannya jelas untuk menghindari tindakan dari pihak berwenang dan aktivitas penambangan di sana tetap berlangsung.

“Ledakan gas metan kali ini juga terjadi karena pelanggaran yang dilakukan pengelalola dan pekerja tambang rakyat itu. Pemerintah kota Sawahlunto pada Desember lalu sudah mengingatkan bahwa ada peningkatan kadar gas metan sampai 2 persen yang sangat berbahaya bagi aktivitas penambangan namun tidak diacuhkan,” ujar Ade yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumbar.

Ade mengatakan, pemerintah daerah harus secepatnya menghentikan penambangan yang dilakukan masyarakat di sana. Selain berbahaya, areal pertambangan itu juga dikuasai negara.

“Saya tidak mengatakan bahwa kawasan itu tidak dapat diekploitasi. Ke depan, proses penambangan benar-benar harus dilakukan oleh para pekerja yang memenuhi kualifikasi, cara kerja standar dan menggunakan peralatan yang memenuhi tuntutan keamanan,” tukasnya.

Korban Ledakan tambang Sawahlunto Hanya 31 Orang

SAWAHLUNTO - Korban tewas ledakan tambang batu bara di Sawahlunto, Sumatera Barat, ternyata hanya 31 orang, sebelumnya ditulis 32 orang. Kini, petugas sudah mengidentifikasi sedikitnya 31 korban.

Data simpang siur itu akibat ada satu orang yang ditulis dua nama yakni Anton Alung dan Anton. Berikut identitas 31 korban tewas ledakan berdasarkan data tim SAR di lokasi kejadian:

1. Sipen (39), warga asal Bukit Bual
2. Anton Alung, (20) asal Bukit Bual
3. Nanduik (35), asal Tanjung Ampalu
4. Hengki (23), asal Tanjung Ampalu
5. Beni (20), asal Talawi
6. Salman (40), asal Tanjung Ampalu
7. Cai (40), asal Tanjung Ampalu
8. Baba (19), asal Bukit Bual
9. Cau (20), asal Tanjung Ampalu
10. Bute (40), asal Bukit Bual
11. In (35), asal Bukit Bual
12. Mawar (35), asal Bukit Bual
13. Karim (45), asal Bukit Bual
14. Ucuang (35), asal Tanjung Ampalu
15. Haris (34), asal Tanjung Ampalu
16. Samsul (40), asal Bukit Bual
17. Ali Ancak (42), asal Bukit Bual
18. Andre (19), asal Bukit Bual
19. Adel (22), asal Bukit Bual
20. Roy (20), asal Bukit Bual
21. Puput (22), asal Bukit Bual
22. Nami (40), asal Tanjung Ampalu
23. Firman (40), asal Tanjung Ampalu
24. Buyung Kalam (37) asal Tanjung Ampalu
25. Isap (40), asal Tanjung Ampalu
26. Edi S (45), asal Bukit Bual
27. Napi (30), asal Bukit Bual
28. Har BB (30), asal Bukit Bual
29. Siwit (35), asal Tanjung Ampalu
30. Jon (30), asal Tanjung Ampalu
31. Canduang (36), asal Tanjung Ampalu

Jumat, 19 Juni 2009

CARUT MARUT DEMO”CRAZY”


Kalau kita perhatikan keadaan bangsa ini saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan keadaan kita 10 tahun yang lalu misalnya saat bangsa ini masih dikuasai oleh rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto. Jaman Soeharto, The Smiling General itu, sungguh amat ‘mengerikan’. Mengapa mengerikan ? Boleh dibilang rakyat kehilangan kesempatan haknya yang paling dasar untuk bersuara. Kalaupun bersuara, tidak boleh bertentangan dengan apa yang menjadi kebijakan penguasa. Kalau bertentangan, selesai sudah riwayatnya. Kita lihat saja bagaimana nasib tokoh-tokoh Petisi 50 yang mencoba mengkritik sepak terjang Orde Baru. Semuanya personna non grata. Dan boleh dibilang hampir tidak ada demonstrasi sama sekali, jangan coba-coba deh …..

Untunglah Orde Baru akhirnya tumbang oleh gerakan rakyat yang dipelopori oleh Mahasiswa pada tahun 1998. Situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya bahwa Soeharto akan turun. Soeharto telah mencoba ‘melempar bola panas’ ke tangan Wiranto, Panglima ABRI saat itu, dengan memberinya kekuasaan untuk melakukan tindakan yang perlu untuk mengatasi situasi kacau saat itu. Pola ini persis skenario Soeharto pada SUPERSEMAR tahun 1965, hanya saja saat itu yang ‘menerima’kekuasaan’ untuk mengatasi keadaan adalah Soeharto sendiri. Untunglah Wiranto tidak menggunakan kekuasaan penuhnya itu untuk menumpas gerakan kebangkitan demokrasi yang sedang diperjuangkan oleh rakyat. Maka, tumbanglah Soeharto.

SITUASI SAAT INI

Sudah sepuluh tahun kita mengalami ‘kemerdekaan’. Alam demokrasi sudah mulai kelihatan. Rakyat mulai bisa berbicara, bebas berbicara. Namun demikian, saya mencoba mengamati bahwa demokrasi yang sedang dibangun saat ini berjalan tanpa arah yang jelas. Saya melihat ada empat unsur yang sedang menggerakkan sistem demokrasi dinegeri ini dan semuanya memposisikan dirinya ‘merekalah yang paling benar berdemokrasi’.

Pertama, para penguasa yaitu mereka yang sedang berkuasa dipemerintahan saat ini. Sistem Pemerintahan saat ini adalah sistem ‘bagi-bagi kekuasaan’. Partainya Presiden SBY adalah Partai dengan suara mayoritas di Parlemen dan agar pemerintahannya berjalan mulus, maka Partai-partai yang ada harus diberi jatah memegang jabatan di kabinetnya karena memang seperti itulah tuntutan para partai tersebut. Akibatnya apa ? Sistem ini tidak menjamin ‘right man in right place’. Mungkin juga kita masih ingat perihal kebijakan 4 menteri tentang pengupahan yang akhirnya menimbulkan protes diamana-mana. Seolah-olah mau bertindak proaktif, eh … yang ada malah menunjukkan kesalahan fatal. Seperti kita sudah tahu, kebijakan itu kini telah dirubah. Ini menunjukkan betapa gegabahnya pemerintah dalam mengambil kebijakan yang menyangkut rakyat kecil.

Belum lagi posisi Wakil Presiden saat ini yang sedemikian besar sehingga seolah-olah negara ini dipimpin oleh 2 orang penguasa. Hanya di Indonesia dimana kebijakan Presiden bisa dirubah hanya karena Wakil Presidennya tidak setuju. Mangapa ini bisa terjadi ? Semua atas nama ‘pembagian tugas’.

Termasuk didalam unsur penguasa disini adalah para anggota DPR. Bayangkan, didalan sistem yang serba terbuka seperti sekarang ini, banyak anggota DPR yang terhormat itu melakukan praktek korupsi dalam segala bentuknya. Studi banding padahal jalan-jalan, meminta upeti agar anggarannya disetujui, korupsi waktu dengan tidak pernah hadir di rapat-rapat atau sekedar TIDUR diruang rapat - yang penting absen, anggaran perjalanan dinas yang terus membengkak, renovasi gedung yang sebenarnya belum terlalu perlu, perselingkuhan dan lain-lain. Didepan pers mereka selalu berbicara seolah-olah membela rakyat, namun dibelakang, mereka bertindak sebaliknya. Walau saya sangat yakin diantara mereka masih ada yang benar benar bekerja demi rakyat, salut untuk mereka, namun tidak sedikit pula posisi mereka bukannya ‘Perwakilan Rakyat’ tetapi ‘Pemeras Rakyat’ dengan mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadi. Contohnya, beberapa dari mereka kini dalam penanganan KPK.

Kedua adalah para politikus partai. Karena saat ini siapapun boleh berbicara apapun, surat kabar-surat kabar kini berisik dengan ocehan mereka. Yang mereka suarakan pokoknya ngga sama dengan Pemerintah - yang penting bersuara dan beda. Padahal, sebagian dari mereka dulunya sama-sama menjadi pejabat di Pemerintahan Soeharto. Karena sekarang beda partai - opsisilah gitu - maka mereka harus berbicara beda. Dulunya sama-sama petinggi militer, sekarang mereka bersaing untuk menjadi Presiden. Ha … ha … ha … Ini sinetron paling seru di negeri ini ……. Bayangkan, ketika semua ocehan mereka dimuat disurat kabar, ditayangkan di televisi, disiarkan di radio dan rakyat kita dengan daya serap dan daya tangkap yang berbeda-beda mendengar semuanya itu, akan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda. Dan pada tingkat lapangan, mereka juga akan saling ber-oposisi. Ini berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan.

Ketiga, yaitu para LSM dan ORMAS. Harus saya akui bahwa peran LSM sangat besar dalam membangun kesadaran masyarakat akan hak-haknya dalam berdemokrasi dan dalam menegakkan hak asasi manusia. Kita lihat saja peran positif dari KONTRAS, yang sejak jaman Soeharto-pun sudah berani bersuara menegakkan kemanusiaan di negeri ini. Salut untuk mereka. Namun disisi lain, kita lihat ada saja LSM yang, menurut saya, justru akan lebih mempersulit situasi saat ini. Contoh, ketika Pemerintah menggusur bangunan-bangunan liar di pinggir kali atau dibawah-bawah jembatan, mereka bersuara lantang, atas nama rakyat miskin katanya, bahwa Pemerintah melanggar hak asasi mereka. Mereka hanya menentang tindakan penggusuran tetapi mereka tidak memberikan solusi untuk mengangkat harkat martabat rakyat agar mereka tidak lagi tinggal di pnggiran kali ataupun kolong jembatan. Juga ketika Polisi membubarkan paksa demonstrans yang mulai bertindak anarkis, mereka berteriak bahwa aparat keamanan bertindak melanggar hak asasi manusia. Jangan bela yang melanggar hukum atas nama hak asasi. Pelanggaran hukum adalah pelanggaran hak asasi publik.

Unsur keempat adalah rakyat. Rakyat sekarang, saya analogikan seperti seorang anak kecil yang baru saja belajar berbicara. Dia akan mencoba berbicara apa saja yang saat itu ada dibenaknya. Kita mungkin sudah bosan mendengar berita demonstrasi. Hampir setiap hari demonstrasi - yang bahkan seringkali menimbulkan kerusuhan dan bentrokan dengan aparat keamanan. Ketika beberapa orang merasa punya pendapat yang berbeda dengan Pemerintah, baik di daerah maupun tingkat pusat, mereka suarakan pendapat mereka dengan demonstrasi. Hampir setiap hari ada berita demonstrasi. Saya rasa, jika DPR atau DPRD kita benar-benar berperan sebagai wakil rakyat, demonstrasi akan berkurang drastis karena rakyat akan merasa aspirasi mereka sudah terwakili oleh wakil-wakil mereka.

HARAPAN

Ya … semoga pemilu 2009 nanti benar-benar merupakan sebuah tahapan akhir untuk semakin dewasanya semua unsur di negeri ini di dalam berdemokrasi. Kita membutuhkan wawasan yang sama, langkah dan gerak yang sama untuk membangun bangsa ini. Kalau masing-masing ingin berjalan sesuai dengan pandangannya sendiri, apa jadinya negeri ini. Mari kita satukan visi, buang jauh-jauh semangat berkuasa, taman semangat melayani, kita songsong bangsa ini dengan pengharapan yang kuat - saya yakin bangsa ini akan maju. Semoga.

Rabu, 17 Juni 2009

Din Syamsuddin : Krisis global ulah negara maju yang serakah

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan krisis global yang terjadi sekarang akibat ulah negara maju yang serakah. Din meminta negara-negara maju yang tergabung dalam Kelompok 8 (G-8) berinvestasi bagi perdamaian dunia, bukan sebaliknya bersaham bagi terciptakan kerusakan dunia.-->
Din menyampaikan hal ini dalam pidatonya di depan 200 tokoh agama dunia yang sedang bertemu di Roma dalam rangka memberi masukan bagi G-8 Summit yang akan bersidang di Roma pada 8-10 Juli 2009. Demikian siaran pers Din yang diterima detikcom, Rabu (17/6/2009). Din yang diminta bicara mewakili Islam menegaskan bahwa kerusakan dunia yang ditandai antara lain adanya aneka krisis global - pangan, energi, lingkungan hidup dan keuangan - adalah akibat ulah negara-negara maju yang serakah dan mau menang sendiri. Sebagai akibatnya, tercipta ketidakadilan global, merajalelanya kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kerusakan lingkungan hidup, pandemi, perang dan berbagai bentuk kekerasan.Pada sesi yang juga menghadirkan Menlu Italia Franco Frattini sebagai pembicara lain, Din membeberkan fakta-fakta kemiskinan dan pengangguran di dunia dewasa ini, dan betapa negara-negara besar mengeluarkan dana besar-besaran untuk militer dan perang. Untuk itu Din mengajukan saran dari perspektif umat beragama kepada negara-negara maju. Pertama, agar dilakukan perubahan paradigma pembangunan dari sekadar sustainable development menjadi sustainable development with meaning (pembangunan berkelanjutan dengan makna), yang dalam aplikasi ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan semata tapi mengabaikan pemerataan dan keadilan sosial. Begitu pula, paradigma ini akan menolak eksploitasi sumber daya alam tanpa upaya pelestarian. Kedua, agar negara-negara maju berinvestasi bagi perdamaian dunia, semisal melakukan langkah-langkah nyata dalam menerapkan Millenium Development Goals (MDGs) yang sudah menjadi konsensus mereka sejak 2000, tapi belum ada realisasi nyata.Ketiga, agar negara-negara maju mengedepankan soft power or love power dalam mengatasi masalah-masalah di negara-negara lain, tidak seperti sekarang ini lebih menonjolkan hard power sehingga mereka terjebak ke dalam kekerasan negara atas negara lain. Di akhir pidatonya yang mendapat sambutan antusias peserta, Din menaruh harapan kepada Presiden baru AS Barack Obama dengan memberi apresiasi terhadap pidatonya dari Kairo beberapa waktu lalu untuk membuka hubungan baru dengan dunia Islam atas dasar saling memahami, menghormati dan kepentingan bersama. Namun, tandas Din, umat Islam sedunia menunggu realisasi janji tersebut, karena perkataan harus sesuai dengan perbuatan. Tapi betapapun juga, sikap Obama itu memberi harapan baru kepada dunia, dan Din optimistis perbaikan dunia terjadi jika ada kesadaran baru dari para pemimpin negara-negara maju yang benar-benar berniat bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia. Selama di Roma, Din bersama sejumlah tokoh agama dunia Selasa sore diterima oleh Presiden Italia Giorgio Napolitano di Istana Kepresidenan. Pada audiensi tersebut, para tokoh agama menyampaikan penghargaan kepada para pemimpin G-8 atas perhatiannya terhadap saran-saran kalangan agamawan. Presiden Napolitano juga menegaskan penting nilai-nilai moral dan etika agama untuk melandasi pembangunan dunia. Pada kesempatan audiensi tersebut Din Syamsuddin menyampaikan rasa duka cita atas gempa yang melanda L'Aquila, Italia April lalu dan berharap Semangat L'Aquila (tempat G-8 Summit) akan memberi solusi terhadap problematika dunia dan mencerahi peradaban dunia di masa depan.

Kekasih abadi

Tak ada detak yang berpacu lebih kencang
Kecuali ketika namaMu di serukan, Sayang
Pun tak ada debar yang begitu menggemuruh
Kecuali ketika nafas-nafas luruh bersimpuh
Kerinduan iniSemakin deras
mengalirHingga merasuki lembah jiwa yang paling tubir
Lalu dengan selembar hati berlumur noktah
Sebongkah cinta menghantar jiwa yang kini berpasrah